KAIDAH PENULISAN MA ZAIDAH AL-KAFFAH DALAM PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’


KAIDAH PENULISAN MA ZAIDAH AL-KAFFAH  DALAM PEMBELAJARAN QAWAID AL-IMLA’
Sofi Nurul Khofifah
Sofinurulkhofifah47@gmail.com
Fauzia Gani
fauziagani@gmail.com
ABSTRAK
Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang unik dengan pembagian kata ke dalam tiga kategori, yaitu اسم  ismun (nomina),  ٌلْعِف fi’lun (verba), da حرف harfun (partikel). Meskipun pembagiannya sederhana, bahasa Arab merupakan bahasa yang produktif pada kategori nomina dan verba melalui sistem derivasi kata yang dimilikinya. Adapun partikel dalam bahasa Arab meskipun tidak mengalami derivasi, tetap memiliki makna yang beragam, karena masing-masing partikel tersebut memiliki makna dan fungsi tertentu, bahkan satu partikel dapat memiliki berbagai makna dan fungsi, tergantung penggunaannya dalam kalimat. Salah satunya yaitu mā. Mā merupakan salah satu partikel yang frekuensi penggunaannya dalam bahasa Arab cukup tinggi, baik lisan maupun tulisan. Dalam penggunaannya, mā dalam konstruksi kalimat yang berbeda akan menghasilkan makna yang berbeda pula, sehingga hal tersebut penting untuk dikaji. Hasil kajian tersebut diharapkan dapat diterapkan dengan tepat dalam pembelajaran bahasa Arab bagi penutur bahasa Indonesia maupun penerjemahan Arab-Indonesia, guna meningkatkan kemampuan berbahasa serta meminimalisir kesalahan. Berdasarkan urgensi penelitian yang telah dipaparkan, penelitian ini akan mendeskripsikan bagaimana pemakaian mā dalam kalimat bahasa Arab serta memaparkan apa saja makna gramatikal yang dihasilkan oleh pemakaian mā tersebut.  
Penelitian tentang mā dalam bahasa Arab ini bukanlah yang pertama. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil telaah pustaka yang dilakukan terhadap penelitian sebelumnya. Beberapa penelitian yang membahas tentang mā di antaranya yaitu Solihah (2014) dalam skripsinya yang berjudul Macam-macam Mā dan Penggunaannya dalam Surah Yusuf Analisis Sintaksis. Penelitian tersebut mendeskripsikan jenis mā yang terdapat dalam surah Yusuf beserta penggunaannya. Hasil penelitian tersebut yaitu terdapat dua jenis mā dalam surah tersebut; yaitu ismiyyah (nomina) dan harfiyyah (partikel) yang penggunaannya berupa ism mauṣūl, nafiyah, dan masdariyah. Terdapat pula penelitian lain dengan judul Ma sebagai Nomina dan partikel.
Partikel dalam Bahasa Arab yang dilakukan oleh Hasanah (1993). Penelitian tersebut mendeskripsikan penerapan mā dalam kalimat, menjelaskan macam-macam mā berdasarkan kategorinya, kategori yang dapat bergabung dengan mā, pengaruhnya terhadap kata atau kalimat yang dilekSatinya serta dibahas juga tentang posisi, fungsi sintaksis, dan kasus yang dapat ditempati oleh mā tersebut. Dari hasil kedua penelitian tersebut, dapat diketahui bahwa mā baru dianalisis dengan analisis sintaksis guna menemukan jenis, kategori, serta fungsi sintaktisnya dalam suatu konstruksi kalimat, adapun makna gramatikal yang dihasilkan belum dibahas. Dengan demikian, topik tersebut menjadi peluang bagi peneliti untuk menyempurnakan penelitian tentang mā dalam bahasa Arab dengan analisis sintaksis dan semantik gramatikal. 
Methodology  Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu pengumpulan data, analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Dalam tahap pengumpulan data, data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dan teknik catat dari berbagai sumber data tertulis yaitu buku-buku berbahasa Arab. “Penulisan Ma Zaidah  Al-Kaffah dalam pembelajaran Qawaid Al-Imla” merupakan jenis artikel yang membahas permasalahan  teknis atau kaidah penulisan Ma zaidah secara keseluruhan. Tafsir dengan pendekatan kebahasaan sangat diperlukan dalam memahami al-Qur’an di samping karena al-Qur’an menggunakan bahasa arab yang penuh dengan sastra, balaghah, fashahah, bayan, tamsil dan retorika, al-Qur’an juga diturunkan pada masa kejayaan syair dan linguistik. Sedangkan tujuan penelitian yaitu untuk mejawab rumusan masalah yang  berhubungan dengan aturan atau teknis penulisan Ma zaidah  Al-Kaffah dalam pembelajaran Qawaid Al- Imla’ , dan suatu ayat akan berpengaruh jika dimasuki oleh  Ma Zaidah. Dengan mempelajari teknis penulisan Ma’ zaidah  Al-Kaffah ini diantaranya dapat menambah wawasan kita tentang kaidah (Qawaid) dalam penulisan  arab terutama kaidah penulisan Ma Zaidah.
Kata kunci : Penulisan, Kaidah, Ma Ziyadah Al-Kaffah
PENDAHULUAN
Menulis merupakan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir divergen (menyebar) daripada konvergen (memusat) (Supriadi, 1997). Menulis tidak ubahnya dengan melukis. Penulis memiliki banyak ide, gagasan, pendapat, pikiran, perasaan, serta obsesi yang akan dituliskannya. Walaupun secara teknis ada kriteriakriteria yang dapat diikutinya, tetapi wujud yang akan dihasilkan itu sangat bergantung pada kepiawaian, imajinasi, dan kreativitas penulis dalam mengungkapkan gagasan. Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat indah. Bahasa Arab merupakan Bahasa Al-Qur’an. Ahmad Al Hasyimi dalam bukunya Jawahirul Adab mengemukakan: Dalam mempelajari Al-Qr’an tentunya harus mempelajari kaidah penulisan Al-Qur’an, yaitu Qawaidul Wal Imla’. Imla’ merupakan bagian dari maharah al-kitabah. Maharah al-kitabah atau keterampilan menulis Arab sendiri mencakup tiga muatan dasar. Pertama, maharah al-tahajji bi thariqatin salimatin,  keterampilan menyalin huruf secara benar. Kedua, maharah wadh’i alamata al-tarqim fi mawadhi’iha keterampilan meletakkan tanda baca yang benar. Ketiga, maharah al-rasmi al-wadhih al-jamil li al-huruf wa al-kalimat, yaitu keterampilan menulis indah atau seni kaligrafi. Maharah al-tahajji bi thariqatin salimatin atau keterampilan menyalin huruf hijaiyah secara benar itu sendiri mencakup dua hal: 
  1. Kemampuan mengucapkan huruf-huruf hijaiyah baik dalam bentuk tunggal, kata, atau kalimat secara benar.
  2. Kemampuan menulis huruf-huruf hijaiyah baik dalam bentuk tunggal, kata, kata, atau kalimat dan teori-teori tentang tanda baca sekaligus aplikasi dalam teks. 
Menurut Umar Sulaiman Muhammad, terminology imla’ tidak dapat dipisahkan dari dua unsur. Mumlin (orang/guru yang mengimla’ atau mendikte) dan mumlan ‘alaih (orang/siswa yang diimla’ atau  menerima imla’). Karena dua unsur ini kemudian muncul pengertian bahwa imla’ adalah membacakan teks bacaan kepada siswa, kata demi kata atau kalimat demi kalimat dan meminta siswa untuk menulisnya. Dalam mempelajari Qawaidul Wal-Imla’ disini kita mengambil contoh untuk teknik penulisan Maa Zaidah Al-Kaffah dalam membuatnya. Banyak sekali kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan khat kaligrafi makanyanya dibuat imla’ dan materi tentang qawaid untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan.
Berbicara mengenai kaidah penulisan, tentu tidak akan lepas dari banyaknya aspek yang dibahas didalamnya. Salah satunya aspek tentang kaidah penulisan Zaidah atau Al-ziyadah. Para ulama nahwu mufasir berbeda pendapat tentang ziyadah di dalam Al-Qur’an: pertama, kelompok yang tidak dibenarkan ziyadah di dalam Al-Qur’an,  dengan alasannya adalah perbincangan tentang ziyadah di dalam Al-Qur’an adalah perbincangan yang sia-sia bahkan diharamkan dalam ulama. Menurut mereka, tidak mungkin terjadi di dalamnya , karena jika sekiranya terjadi penambahan lafal tersebut berimplikasi pada penambahan makna. Kedua, mengatakan bahwa ziyadah bisa terjadi di dalamnya. Tetapi ada aspek I’rabnya saja bukan pada aspek makna. Bahkan lafal yang dianggap ziyadah berfungsi memperindah bahasa Al-Qur’an, tetapi pada mereka hanya pada fi’il huruf , artinya tidak terjadi pada huruf.
Penulisan Zaidah atau Al-Ziyadah ini sangat penting untuk dipelajari, karena ilmu ini mengajarkan tentang penambahan-penambahan huruf yang ada dalam suatu kata dalam bahasa arab termasuk Al-Quran. Untuk bisa memahami makna dari bahasa arab, perlu adanya pengetahuan tentang kaidah-kaidah penulisan yang ada dalam ilmu bahasa arab. Salah satunya Al-Ziyadah. Al-Zaidah adalah  penambahan huruf atau lafadz yang mempunyai tujuan dan faedah tertentu yang tidak didapatkan ketika lafadz tersebut dibuang atau dihilangkan dalam suatu kalimat yang ada pada bahasa. Adapun yang menjadi masalah disini adalah ketika seseorang yang ingin belajar Al-Qur’an dan tidak mengetahui kaidah-kaidah penulisannya, khususnya kaidah penulisan dari Ma Zaidah ini, maka akan mengakibatkan kesalahan dalam pemahaman kata atau arti dari ayat Al-Qur’an. Untuk itu, mempelajari kaidah dan cara penulisan sangatlah penting agar kita mengetahui teknik penulisan Maa Zaidah Al-Kaffah.
PEMBAHASAN
Ziyadah/Zaidah Al-Kaffah 
Kata Al-Ziyadah ز د ط  secara etimologi berakar dari huruf ز ي د  yang berarti tambahan , kelebihan. Secara terminology, ulama berbeda pendapat tentang definisi al-Ziyadah yang satu sama lain saling berkaitan, meskipun ada perbedaan yang signifikan (Ibnu Rawandhy N. Hula). Perbedaan itu disebabkan tujuan mereka menggunakan al-Ziyadah. Diantara ulama tersebut adalah : 
  1. Ulama Nahwu mengatakan bahwa al-Ziyadah adalah lafadz yang tidak memiliki posisi dalam I’rab. Artinya al-Ziyadah bagi mereka bukan terletak pada makna, akan tetapi terletak pada lafadz-lafadz tersebut. Begitupun yang dimaksud oleh ulama tashrif.
  2. Ulama bahasa berpendapat bahwa al-Ziyadah adalah penambahan huruf atau lafadz yang tidak mempunyai arti dan faedah sama sekali, hanya sebagai penghias kata.
  3. Ulama Tashrif cenderung berpendapat sama dengan ulama nahwu,terlebih lagi bahwa al-Ziyadah tidak mungkin terjadi dalam Al-Quran jika yang dimaksud al-Ziyadah  adalah penambahan huruf atau lafadz yang tidak berfaedah atau sia-sia. Hanya ulama tafsir memperingatkan agar waspada menggunakan istilah al-Ziyadah karena dapat menimbulkan kesalahpahaman dan kebimbangan dalam masyarakat awam. (Ibnu Rawandhy N. Hula)

Berdasarkan penjelasan tersebut, yang dimaksud dengan al-Ziyadah adalah penambahan huruf atau lafadz yang mempunyai tujuan dan faedah tertentu yang tidak didapatkan ketika lafadz tersebut dibuang. Namun jika lafadz tersebut dibuang, maka makna dasarnya tidak rusak atau berubah. (Ibnu Rawandhy N. Hula)
Sedangkan kata Kaffah secara harfiah ia memiliki arti seluruhnya. Kata kāffah di dalam al-Qur‘an muncul sebanyak 5 kali dalam 4 ayat, antara lain QS. Al-Baqarah [2]: 208, QS. At-Taubah [9]: 36 dan 122, QS. Saba‘ [36]: 28. Selauin itu, kata kāffah muncul lagi dengan bentuk derivasi lainnya, antara lain dengan bentuk fi‘il madhi (kaffa), fi‘il mudhari‘ (yakuffu), fi‘il amr (kuffu), isim mufrad (alkaffu). Pemilihan kata kāffah sebagai objek penelitian ini guna menjawab makna kāffah yang dimaksud QS. Al-Baqarah [2]: 208, yang artinya:
 
“Hai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam kedamaian (Islam) secara menyeluruh, dan janganlah kamu ikuti langkahlangkah syetan. Sesungguhnya ia (setan itu) musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]: 208)
Sedangkan maa yang beramal seperti kana (merofakkan isim dan menashobkan khobar).
  1. Maa Zaidah ( زيدة ما ) yaitu berarti tambahan ما.
  2. Maa Zaidah Kaffah, yaitu maa yang mencegah amil beramal, seperti contohnya inna (ان) yang ditambahkan dengan huruf maa zaidah kaffah maka amalnya inna menjadi gugur.
Maa Zaidah adalah Maa yang memiliki tambahan tidak mempunyai makna.  Maa Zaidah terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Maa Zaidah yang dapat menginfleksi, 
  2. Maa Zaidah yang tidak dapat menginfleksi (Al khotib, 2000: 163).
Bentuk- Bentuk Kaidah al-Zaidah
  1. Kaidah pertama 
لا ز ئد في القران 
 “ Tidak ada (ziyadah) tambahan dalam Al-Quran”.

Maksud dari kaidah ini adalah pada dasarnya tidak ada ziyadah dalam Al-Quran. Karena Al-Quran itu sendiri disucikan dari segala bentuk kesia-siaan atau penambahan-penambahan yang tidak memiliki faedah. Kaidah ini mencakup dua hal:
  1. Sesuatu yang tidak memiliki makna atau makna yang tidak dibutuhkan. Bentuk al-Ziyadah ini tidak mungkin terdapat dala Al-Quran karena dianggap sia-sia dan dapat merusak kemukjizatannya.
  2. Lafadz atau huruf yang tidak merusak makna aslinya jika dibuang, akantetapi penambahannya bersimpulakan pada penambahan maknanya.
Oleh karena itu, al-Zarkasyi menjelaskan bahwa ungkapan ulama “Huruf atau lafadz ini Zaidah” bertujuan bahwa huruf atau lafaz tersebut jika dibuang tidak akan merusak makna aslinya, akan tetapi ziyadah  tersebut bukan berarti tidak memiliki faedah.
  1. Kaidah Kedua
زيادة المبني تدل على زيادة المعنى (قوة اللفظ لقوة المعن)
 “ Penambahan Bina’ (Model) menunjukkan adanya penambahan makna (kekuatan lafadz karena kuatnya makna)”
Yang dimaksud dengan kaidah ini adalah setiap kali ada penambahan hururf atau penambahan wazan (timbangan lafadz) atau penambahan tasydid pasti berdampak pada penambahan makna atau penegesannya.
  1. Kaidah ketiga
يحصل بمجموع المترادفين معنى لا يوججد عنه انفرادهما 
“ Penggabungan dua kata yang serupa maknanya akan menghasilkan makna yang tidak ditemukan ketika lafadz tesebut terpisah/tersendiri”.
Penggunaan dua lafadz yang pada dasarnya mempunyai makna yang sama (mutaradif) memberikan faedah tersendiri disbanding jika lafadz tersebut sendiri-sendiri. Faedah yang dapat dihasilkan adalah faedah al taukid (penguat/penegas) dengan dasar bahwa penambahan huruf saja dapat  memeberikan makna tambahan, apalagi penambahan lafadz.
  1. Kaidah keempat 
كل حرف زيد في كلام الهرب (للتأكيد) فهو قائم مقام اعادة الجملة مرة اخرى
 “Setiap hurur yang ditambahkan dalam kalimat Arab karena penegasan maka stausnya sama dengan pengulangan kalimat tersebut.”
Kaidah tersebut hampir sama dengan kaidah nomor dua yang mengatakan bahwa penambahan bina’ akan berdampak pada penambahan makna. Namun, kaidah kedua tersebut lebih mengarah pada penambahan atau berupahan bina’, sedangkan kaidah keempat ini mengarah pada penambahan huruf, fi’il dan isim, namun penambahan fi’il jarang terjadi atau sedikit sedangkan penamabahan isism lebih jarang lagi. 

Penggunaan Harf  Maa Zaidah
Zaidah, yaitu maa huruf tambahan yang tidak memiliki mahal I’rob. Maa Ziyadah biasanya berada setelah :
  1. Idza اذا  seperti yang artinya apabila dosen telah datang maka para mahasiwa diam.
  2. Mata  متى  seperti yang artinya kapan saja kamu datang, aku akan mengajarimu.
Huruf Maa, apabila berada sesudah اذا)) dan شرط karena itu maka tidak mempunyai padanan makna. Berbeda dengan maa yang berstatus sebagai  isim maushul, istifham, harf nafhyi, atau harf syarth.
  1. Isim Maushul, yaitu isim yang digunakan dalam bentuk mufrad, tatsniyah, atau jamak, baik mudzakkar, ataupun muannats. Kebanyakan maa maushulah digunaan untuk ghair aqil (tidak berakal).
Misalnya:
اعجبني ما ركبت
(telah membuat kagum bagiku, apa yang telah aku kendarai) 
  1. Istifhamiyyah, yaitu maa isim yang dipakai untuk suatu pertanyaan mengenai sesuatu yang tidak berakal atau hakikat sesuatu atau sifatnya, baik sesuatu ini berakal atau tidak berakal. Seperti فعلتما  apa yang kamu lakukan?
  2. Syarthiyyah, yaitu maa isim yang syarath jazm yang butuh pada fi’il syarath dan jawab syarat jawabnya. Untuk itu, maa ini termasuk perabot jazm yang beramal men-jazm kan dua fi’il yaitu fi’il syarath dan jawab syarath, seperti dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 197:

        
197. (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat Fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.

[122] Ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.
[123] Rafats artinya mengeluarkan Perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[124] Maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.
Tafsir Ayat Al-Qur'an:
 (Haji), maksudnya adalah waktu dan musimnya (beberapa bulan yang dimaklumi), yaitu Syawal, Zulkaidah dan 10 hari pertama bulan Zulhijah. Tetapi ada pula yang mengatakan seluruh bulan Zulhijah. (Maka barang siapa yang telah menetapkan niatnya) dalam dirinya (akan melakukan ibadah haji pada bulan-bulan itu) dengan mengihramkannya, (maka tidak boleh ia mencampuri istrinya), yakni bersetubuh (dan jangan berbuat kefasikan) berbuat maksiat (dan jangan berbantah-bantahan) atau terlibat dalam percekcokan (sewaktu mengerjakan haji). Menurut satu qiraat, dengan baris di atas dua hal yang pertama dan makna yang dimaksud adalah larangan mengerjakan tiga hal itu. (Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan) sedekah (pastilah diketahui oleh Allah) yang akan membalas kebaikan itu. Ayat berikut ini diturunkan kepada penduduk Yaman yang pergi naik haji tanpa membawa bekal, sehingga mereka menjadi beban orang lain. (Dan berbekallah kamu) yang akan menyampaikan kamu ke tujuan perjalananmu. 

Macam – macam Al-Ziyadah 
  1. Ziyadah Alif
Pada bagian ini akan menghadapi 3 masalah pokok:
  1. Ziyadah alif  sesudah waw jama’
  2. Ziyadah alif  sesuadah waw jama’ mufrad
  3. Ziyadah alif  yang tidak terletak sesudah waw jama’ atau waw mufrad.
  1. Ziyadah ya’
Pembahasan ini memiliki beberapa karakter :
  1. Sebelum ya ziyadah, hamzah yang berharakat kasrah dan tidak didahului alif.
  2. ya ziyadah, hamzah yang berharakat kasarah dan didahului alif.
  1. Ziyadah waw
Para ulama perawi rasm usmani empat kalimat berikut ada ziyadah waw, contoh : (اولاء) (اولت) (اولي)
Macam-Macam Huruf Maa
Seperti yang diketahui , kata dalam bahasa arab diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu nominan, verba, dan partikel. Maa sebagai suatu konstituen dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu partikel dan nomina yang disesuaikan penggunaannya dalam kalimat.  Maa sebagai partikel merupakan konstituen yang mendampingi nomina atau verba.
Maa dalam bahasa arab dapat memiliki berbagai makna sesuai dengan fungsinya dalam kalimat. Megacu pada pengertian tersebut , Nur dalam bukunya (2014:57) mengatakan bahwa suatu unsure dengan unsure yang lain dalam suatu konstruksi. Maa dalam penggunaannya dapat terletak di awal, tengah, maupun di akhir kalimat. Berbagai posisi Maa tersebut dapat mempengaruhi makna gramatikalnya, bahkan dengan posisi yang sama, terdapat beragam makna gramatikal yang muncul.
Dalam penggunaannya, huruf Maa memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan huruf-huruf yang lain. Karena memang huruf Maa ini memiliki banyak versi dan bentuk. Secara garis besar penggunaan Maa dalam Bahasa arab,bisa dibagi menjadi dua.  Adapun pembagian Maa yaitu :
  1. Maa Nafiyah
  2. Maa Zaidah
  3. Maa Zaidah Kaffah
  4. Maa Istifhamiyah
  5. Maa Syartiyah
  6. Maa ta’jubiyah
  7. Maa al-ibhamu
  8. Maa Maushuliyah 
Maa Ziyadah Al Kaffah adalah penambahan huruf atau lafadz yang mempunyai tujuan dan faedah tertentu yang tidak didapatkan ketika lafadz tersebut dibuang. Namun jika lafadz tersebut dibuang, maka makna dasarnya tidak rusak atau berubah (Ibnu Rawandhy N. Hula). Dan Maa dalam bahasa arab  memiliki berbagai makna sesuai dengan fungsinya dalam kalimat secara keseluruhan.

Teknik Penulisan dan Kaidah Maa Zaidah Al-Kaffah
Maa sebagai suatu konstituen dikategorikan oleh Ni’mah (1973:162) ke dalam dua kategori, yaitu partikel dan nomina yang disesuaikan penggunaannya dalam kalimat. Maa sebagai partikel merupakan konstituen yang mendampingi nomina atau verba (Khudhair, 2001:8). Adapun fungsinya yaitu menunjukkan makna konstituen lain yang didampinginya. Az-Zujaji (dalam Khudair, 2001:9) berpendapat bahwa makna dari suatu partikel diperoleh dari hubungannya dengan konstituen atau unsur lain dalam kalimat. Ia menambahkan bahwa ragam makna yang muncul tersebut tergantung pada ragam suatu konstruksi di mana partikel tersebut digunakan. Makna tersebut berkaitan dengan konteks yang diinginkan.  Maa dalam bahasa Arab dapat memiliki berbagai makna sesuai dengan fungsinya dalam kalimat (Khudhair, 2001: 50). Mengacu pada pengertian tersebut, Nur dalam bukunya (2014:57) mengatakan bahwa makna gramatikal muncul akibat proses gramatika, salah satunya adalah hubungan suatu unsur dengan unsur yang lain dalam suatu konstruksi. Maa dalam penggunaannya dapat terletak di awal, di tengah, maupun di akhir kalimat. Berbagai posisi maa tersebut dapat mempengaruhi makna gramatikalnya, bahkan dengan posisi yang sama, terdapat beragam makna gramatikal yang muncul. Adapun penjelasannya sebagai berikut. 
 Maa  yang terletak di awal kalimat
Contoh
Arti
ما سمعت شيءا
Tidak saya telah mendengar sesuatu
Maa dalam contoh 1 merupakan partikel yang mengawali kalimat yang berupa al-jumlah alfi’liyyah, yaitu kalimat yang diawali dengan verba (Ni’mah, 1973:19), dalam hal ini verba perfekسمعت  (sami’tu). Maa dalam kalimat tersebut berfungsi sebagai  an-nafiyyatu ‘ penanda negasi atau negator’ bagi verba perfek yang berada setelahnya, yaitu sami’tu. Verba yang diawali dengan maa  negator dapat juga berupa verba imperfek sebagai berikut, yaitu Maa asma’u syai’an ‘saya sedang tidak mendengar sesuatu’
 Pada kalimat 1 verba perfek sami’tu ‘saya telah mendengar’ yang dinegasikan oleh maa disubstistusi dengan verba imperfek asma’u (saya sedang mendengar) pada kalimat 1. Substitusi pada verba yang dinegasikan oleh mā tersebut tetap gramatikal dan berterima dalam kaidah bahasa Arab. Adapun posisi mā sebagai negator tersebut selalu berada sebelum verba yang dinegasikan. Jika mā sebagai negator dalam kalimat tersebut dilesapkan maka kalimat tersebut menjadi kalimat positif yaitu sebagai berikut, sami’tu syai’an (‘saya telah mendengar sesuatu’). Dengan demikian, makna gramatikal yang muncul pada mā tersebut adalah makna negasi.  
Adapun berikut merupakan contoh konstruksi kalimat lain yang juga diawali oleh maa. Selanjutnya, terdapat contoh kalimat yang diawali dengan mā namun memiliki konstruksi dan makna gramatikal yang berbeda sebagai berikut: 

Contoh
Artinya
ما سمك 
Apa Namamu

Maa ismu ka, apa nama mu? Kalimat itu merupakan konstruksi al-jumlah al-ismiyyah dengan maa berada di posisi awal. Maa tersebut berfungsi sebagai al-istifhamiyyah ‘kata tanya’. Secara sintaktis, maa tersebut menduduki fungsi P yang seharusnya berada setelah S seperti berikut:
Mā Ismuka,  ‘namamu apa?’ Contoh itu tidak berterima karena kaidah kalimat tanya dalam bahasa Arab harus diawali dengan ada tu al-istifhaːmi (kata tanya’), sehingga dalam hal ini mā sebagai kata tanya mengalami pengedepanan predikat, namun tidak mengubah kasus nomina yang berada setelahnya. Adapun makna gramatikal yang dihasilkan dari konstruksi tersebut adalah mā merupakan kata tanya non persona,yaitu maa tazra’ taaaud.
Contoh lain terdapat pada maa  dalam kalimat (3) mengawali konstruksi al-jumlah al-fi’liyyah dengan fungsinya sebagai pemarkah al-jumlatu asy-syar ṭ iyyatu ‘kalimat kondisional’. Adapun makna gramatikal yang muncul pada mā tersebut adalah:
  1.  Pemarkah syarat atau kondisional. Kehadiran maa di awal kalimat tersebut menyebabkan dua verba imperfek setelahnya berkasus jussive dengan harakat sukun. 
  2.  Maa tersebut menjadikan verba pertama yaitu, tazra’ sebagai verba syarat dan verba kedua yaitu tashud sebagai hasilnya. Maa dalam konstruksi kalimat kondisional harus selalu berada di awal verba pertama, sehingga jika posisinya diubah, maka kalimat menjadi tidak gramatikal dan tidak berterima. 
  3.  Terdapat pula konstruksi kalimat yang menggunakan maa di awal kalimat seperti contoh berikut:
Contoh
Artinya
ما اجمل الربع
Betapa lebih indah musim semi itu

Betapa indahnya musim semi itu’ merupakan konstruksi al-jumlah al-ismiyyah yang terdiri mubtada’ dan khabar. Mubtada’ tersebut berupa maa yang berfungsi ‘kata seru penanda kagum. Adanya maa di awal tersebut menuntut hadirnya verba perfek yang harus diawali dengan hamzah dan akhirnya berharakat fathah, ajmala dalam kalimat tersebut. Dengan demikian, posisi maa  di awal adalah mutlak tidak dapat diubah. Jika posisi tersebut diubah, maka kalimat menjadi tidak gramatikal, seperti contoh:
  1. Ajmala maa ar-rabi’a (‘indahnya betapa musim semi itu),
  2. Ajmala ar-rabi:’a maa  (indahnya musim semi itu betapa) 
Adapun makna gramatikal mā yang dihasilkan dari konstruksi kalimat tersebut adalah sebagai pemarkah kekaguman terhadap objek yang diacu. Maa yang terletak di tengah kalimat dalam suatu konstruksi kalimat, maa juga dapat berada di tengah kalimat, contohnya sebagai berikut:  

Contoh
Artinya
وجدت ما احب
Saya telah menemukan apa yang saya suka
                                            
Ma dalam contoh tersebut terdapat di tengah kalimat yang berstruktur al-jumlah al-fi’liyyah. Maa tersebut berfungsi sebagai ‘pronomina relatif’ konstituen yang berada sebelumnya, dalam hal ini adalah verba perfek wajadtu. Adapun makna gramatikal Maa yang dibentuk dari konstruksi kalimat tersebut yaitu kata penjelas bagi non persona yang umum (tidak perlu disesuaikan dengan gender dan jumlah). Maa tersebut menghubungkan konstituen yang terdapat sebelumnya dengan konstituen setelahnya, sehingga posisinya selalu berada di tengah. 
Dibalik perubahan kata pasti ada perubahan makna, di mana teori ini mengacu pada teori semantik yang dihasilkan oleh proses pembentukan kalimat dalam bahasa Arab. Didukung pula pendapat Chomsky, menyatakan sebuah teori struktural mengacu pada pengalisaan afiks dalam bahasa Arab yaitu bentuk dan fungsinya. Tidak lepas dari makna, teori semantik yang digunakan dalam analisis makna gramatikal afiks dalam bahasa Arab ialah teori makna dalam pembentukan, sedangkan klasifikasi semantik dan ilmu qawâid. Hal ini disebabkan adanya latar belakang gramatikal mengacu pada perbedaan konsep makna berdasarkan tujuan.  Tulisan ini berfokus pada pembentukan kata dan perubahan makna ism (nomina) yang mengalami variasi afiksasi-aglutinatif dari bentuk dasar verba (fiil) baik dari tiga, empat, lima dan enam morfem bahasa Arab yang mengalami proses tranfiksasi. Dan penelitian ini mengusung pada morfologis ism. Tujuannya, untuk mengetahui pembubuhan apa saja yang bisa membentuk fiil kepada ism, asal mula pembentukan sehingga muncul makna baru dalam peng-afiksasi Ism (nomina) beragam bentuk berubah manjadi ism fâil/اسم الفاعل,  ism makân/اسم المكان, ism alat/  اسم الألة dan ism lainnya serta dilihat dari segi susunan kalimatnya (siyâqul kalâm).

KESIMPULAN
Berdasarkan beberapa contoh diatas, jika posisi maa diubah, maka kalimatnya menjadi tidak berterima dan tidak menghasilkan makna gramatikal tersebut. Dalam bahasa Arab, salah satu ciri nomina indefinit adalah berharakat tanwin baik itu fathatain, dhammatain , maupun kasratain. Selain itu, analisis data yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pemakaian maa dalam struktur kalimat bahasa dalam bahasa Arab, afiks pembentuk verba dengan akhrufu ziyadah membentuk verba mazid, yaitu verba dengan pola-pola tertentu. Akhrufu ziyadah tersssebut meliputi satu huruf, dua huruf, dan tiga hurufArab menempati berbagai posisi, yaitu awal kalimat, tengah kalimat, dan akhir kalimat. Adapun maa dalam masing-masing struktur tersebut menghasilkan makna gramatikal yang bermacam-macam. Maa yang terletak di awal dapat memiliki beberapa makna gramatikal, di antaranya yaitu makna negasi, kata tanya non persona, pemarkah syarat atau kondisional, pemarkah kekaguman. Maa yang berada di tengah kalimat memiliki makna gramatikal sebagai penjelas konstituen non persona yang bersifat umum. Adapun maa yang terletak di akhir memunculkan satu makna gramatikal yaitu sebagai penyamar atau pengabur makna konstituen sebelumnya. Salah satu cara agar seseorang tidak keliru dalam memhami makna suatu ayat jika kemasukan Maa Ziyadah adalah kita harus mengetahui pengertian dari Maa Zaidah Al-Kaffah, macam-Macam dari Huruf Maa, dan mempelajari teknik penulisannya. Dengan begitu seseorang dengan mudah memahami kata yang ditemukan tersebut apakah merupakan Ziyadah atau tidak. 
























DAFTAR PUSTAKA
 Artikel Febryandini, Annisa Dewi , Pemakaian Ma dalam Bahasa Arab, 2017, ‘PEMAKAIAN M A ̄ ( َ ام ) DALAM BAHASA ARAB’, 2014, 2017, 342–47
Febryandini, Annisa Dewi, ‘PEMAKAIAN M A ̄ ( َ ام ) DALAM BAHASA ARAB’, 2014, 2017, 342–47
Ibnu Rawandhy N. Hula, MA, QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT. Kaidah-Kaidah Menulis Huruf Dan Kata Arab Dan Seni Kaligrafi., ed. by HMJ PBA (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2016)
Journal article, Satuan, acara Perkuliahan Insya 1., ‘ﰲ ﻉﺮﺷ ﺍﺫﺇ ﻲﺸﳝ ﻡﻼﻐﻟﺍ ﺄﺸﻧﺃ : ﻝﻮﻘﺗ ، ﻊﺿﻮﻟﺍﻭ ﺩﺎﳚﻹﺍﻭ ﻉﻭﺮﺸﻟﺍ : ﺔﻐﻟ ﺀﺎﺸﻧﻹ ﺍ . ﻪﻌﺿﻭ : ﺚﻳﺪﳊﺍ ﻥﻼﻓ ﺄﺸﻧﺃﻭ ، ﻢﻫﺪﺟﻭﺃ : ﱂﺎﻌﻟﺍ ﷲﺍ ﺄﺸﻧﺃﻭ ، ﻲﺸ ﳌﺍ ﻖﺋﻻ ﻆﻔﻠﺑ ﺎﻬﻨﻋ ﲑﺒﻌﺘﻟﺍ ﻊﻣ ﺎﻬﻔﻴﻟﺄﺗﻭ ﱐﺎﻌﳌﺍ ﻁﺎﺒﻨﺘﺳﺍ ﺔﻴﻔﻴﻛ ﻪﺑ ﻑﺮﻌﻳ ﻢﻠﻋ ﺎﺣﻼﻄﺻﺍﻭ ﻅﺎﻔﻟﻷﺍ ﱃﻭﻷﺍ : ﺙﻼﺜﻓ ﻪﺻﺍﻮﺧﻭ ﻩﺩﺍﻮﻣ ﺎﻣﺃ . ﻡﻮﻠﻌﻟﺍ ﻊﻴﲨ ﻦﻣ ﺪﻤ’
Kammaluddin Abu Nawas,jounal artikel, Al-Ta’wil Al-Nahwi: Studi tentang Ta’wil al-Ziyadah di dalam Al-Qur’an, ‘ﺚﺤﺒﻟا ﺺﺨﻠﻣ نآﺮﻘﻟا ﻰﻓ يﻮﺤﻨﻟا ﻞﯾوﺄﺘﻟا ﺔﻓﺮﻌﻣ ﻮھ ﺔﻗرﻮﻟا هﺬھ ﻦﻣ ضﺮﻐﻟا و يﻮﻘﻟا ﻖﻄﻨﻟا ﻰﻨﻌﻣ ﻞﯾﻮﺤﺗ ﻲﻨﻌﯾ ﺮﯿﺴﻔﺘﻟا ﻲﻓ ﻞﯾوﺄﺘﻟا . ﻢﯾﺮ ﻜﻟا ﻞﯾوﺄﺘﻟا ﺎﻤﻨﯿﺑ ﺔﻨﯾﺮﻘﺑ ( حﻮﺟﺮﻤﻟا ) ﻒﯿﻌﻀﻟا ﻰﻨﻌﻤﻟا ﻰﻟإ ( ﺢﺟاﺮﻟا ) ﻰﻟإ ﺎﻔﻠﺘﺨﻣ ﺎﺌﯿﺷ ﻞﯾﻮﺤﺘﻟ ﺔﻠﯿﺳو ﻲھ ( ﻮﺤﻨﻟا ) ﺔﻐﻠﻟا ﺪﻋاﻮﻗ ﻢﻠﻋ ﻲﻓ نأ وﺪﺒﯾ’, 15 (2015), 114–32
Masita Mulyaningtyas, Nur Azizah, ’Aisyah Umi Zar’i, ‘AZ-ZIYADAH ALIF PENAMBAHAN ALIF )’, 2014, 1–14
No, Vol, Ahmad Sholihuddin, and Muhammad Thohir, ‘PROSES AFIKSASI MORFOLOGI ISM ( NOMINA ) DALAM BAHASA ARAB’, 5.2 (2018), 292–313
Qawaid Al-Imla ’ Wa Al-Khat 1








                                                             
                                                             

Komentar